Buku Leger madrasah diniyah takmiliyah ula wustha dan ulya

Pada dasarnya buku leger berfungsi sebagai daftar nilai asli siswa (sebelum dipindahkan ke dalam buku laporan pendidikan). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI) online yang saya dapatkan.

baca :

Administrasi dan struktur Tata Kelola Madrasah Diniyah Takmiliyah MADIN MDT

KURIKULUM MADIN, KOMPETENSI LULUSAN MDT, PROSES PEMBELAJARAN MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH.

Kelengkapan Administrasi Madrasah Diniyah Takmiliyah

Selain kegunaan sebelum nilai nilai mudah di pindahkan ke rapot, fungsi lain yaitu sebagai arsip dan memudahkan pencarian data nilai murid jika terjadi kehilangan rapot ataupun ada persengketaan terkait nilai yang ada di rapot siswa. Untuk buku legger ini dibuat berdasarkan buku pedoman madin yang diterbitkan oleh kemenag atau kementerian agama yang dahulu bernama Departemen Agama alias Depag. Dalam buku leger ini memuat tentang : Lanjutkan membaca “Buku Leger madrasah diniyah takmiliyah ula wustha dan ulya”

Sekolah full day banyak mematikan atau membunuh Madrasah diniyah takmiliyah dan TPQ?

masjid sederhana 2
bangunan madrasah diniyah takmiliyah yang sederhana

Tentunya kata mematikan atau membunuh bukanlah dalam arti harfiah. Ataupun dalam artian menutup secara paksa atau secara undang undang lembaga TPQ atau Madin, akan tetapi yang dimaksudkan disini adalah dengan kebijakan yang ada membuat lembaga non formal sore hari baik ikhlas ataupun nggedumel akan tutup dengan sendirinya jika semua sekolahan menerapkan system full day. Mau buka juga silakan tapi ya muridnya mungkin akan lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan guru yang mengajar. Akan tetapi hal ini dibantah oleh sang menteri bahwa tidak ada niat untuk membunuh madin ataupun TPQ, Muhadjir Effendy menteri pendidikan dan kebudayaan RI melontarkan wacana untuk mendorong pemda membuat perda madin atau apalah terkait hal itu.

Seperti biasanya, di Indonesia ganti pejabat maka akan ganti kebijakannya. Dalam kasus ini adalah pergantian menteri pendidikan dari Anies Baswedan digantikan oleh Muhadjir Effendy salah satu kebijakan yang banyak dilihat adalah tentang kebijakan Ujian Nasional dan penerapan sekolah fullday. Sekolah fullday adalah dimana anak anak dari pagi sampai dengan sore hari berada di sekolahan

Sedangkan sekolah non formal pendidikan keagamaan islam utamanya TPQ dan Madrasah diniyah takmiliyah yang biasa di sebut dengan sekolah arab ataupun MDU atau juga ada yang menyebut sebagai madin merupakan sekolah pendidikan keagamaan Islam yang banyak dikelola oleh kalangan NU. Seperti berkembang dengan baik di daerah pantura semisal Kudus, Demak, Batang dan wilayah lain. Madin di wilayah ini sudah bertransformasi menjadi pendidikan non formal yang tertata, dengan manajemen yang baik serta kurikulum yang teratur. Dan menjadi ajang penanaman bela negara dan cinta NKRI.

Singgungan waktu antara sekolah full day dengan TPQ dan MDT

Dimanakah persinggungan kedua hal ini? Antara sekolah fullday dengan Madrasah diniyah takmiliyah (MDT) dan TPQ? Yup titik persinggungan terjadi pada waktu kegiatan. Jika sekolah full day selesai pada pukul 16.00 WIB alias jam 4 sore. Sedangkan banyak TPQ atau madin yang dimulai jam 2 siang atau jam 14.00 WIB. Walaupun juga ada yang mulai TPQ jam 4 sore. Menurut anda, akan di dahulukan manakah ketika terjadi tabrakan waktu? Apakah orang tua/anak-anak akan lebih mementingkan sekolah formal atau pendidikan non formal di Madrasah diniyah atau di TPQ?

Analisa efek berantai dari sekolah full day dan massa lembaga maupun organisasi

Pada berita di muat oleh berita online pada bulan april dikatakan bahwa menteri pendidikan atau pemerintah tidak ingin membunuh TPQ dan madrasah diniyah. Kemudian menteri pendidikan menawarkan tentang alokasi waktu di sore hari untuk pendidikan keagamaan. Seperti diketahui bahwasanya menteri yang satu ini adalah termasuk berlatar belakang Muhammadiyah yang kuat. dan dalam bidang pendidikan formal kita maklumi bahwa Muhammadiyah bisa dikatakan sangat kuat dari segi manajemen dan jumlah lembaga pendidikan, akan tetapi agak lemah di bidang pendidikan non formal seperti Madin atau TPQ. Pada saat ini Sekolah Formal Muhammadiyah  baik SD Muhammadiyah atau SMP atau MI dan MTs memiliki kualitas yang bisa dikatakan bersaing dengan sekolah favorit dan sering bersaing dengan SDIT maupun SMPIT yang banyak dimiliki oleh kader PKS.

Sementara untuk NU, walaupun tidak bisa dikatakan lemah dalam kepemilikan satuan pendidikan formal, akan tetapi secara kuantitas dan kualitas manajemen sepertinya masih perlu ditingkatkan guna menyamai manajemen kualitas serta kuantitas milik organisasi Muhammadiyah. Akan tetapi pada dataran pendidikan non formal utamanya madrasah diniyah dan TPQ, NU jauh lebih unggul secara kualitas maupun kuantitas dan juga output yang dihasilkan.

Frans Magnis Suseno, seorang Katholik dan juga guru besar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara yang dulu pernah menyurati kepada Prabowo tentang kekhawatiran dia terkait kelompok yang diklaim dia sebagai garis keras, mengatakan bahwa pada saat ini bukan jamannya lagi rebutan Umat. Maksudnya rebutan untuk mengkonversi dari satu agama ke agama lain. Saya pribadi juga melihat kira kira seperti itu, tidak ada tindakan masif yang mencolok pada saat ini yang menunjukkan pergerakan konversi keimanan. Akan tetapi pada dataran internal agama, sepertinya terjadi persaingan perebutan massa organisasi yang bagi saya begitu terasa. Dimana terjadi saling ejek saling hina di media sosial, di grup whatsapp. Terjadi persaingan memperebutkan kebenaran, dimana pada era demokrasi maka yang banyak lah yang menang (melalui system pemilu). Walaupun pada saat ini hampir susah memilah antara mana kepentingan organisasi, mana kepentingan politik, akan tetapi yang utama adalah memiliki basis masa yang banyak dan kuat sehingga bisa menguatkan posisi organisasi dan posisi tawar menawar bidang politik. Dengan beralihnya anak-anak yang berasal dari pendidikan non formal ke sekolahan pada sore hari, bisa dikatakan bahwa sang menteri sukses sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Kementerian Agama dan Nahdlatul Ulama.

Sekolah full day dan tersisihnya Madin dan TPQ

masjid sederhana
kunjungan pegawai kemenag di lokasi madrasah diniyah takmiliyah

Yang membingungkan saya ketika ada pernyataan dari menteri bahwa tidak ada maksud membunuh lembaga pendidikan keagamaan islam yang non formal, akan tetapi dengan penetapan waktu sampai jam 4 sore maka saya rasa akan banyak lembaga yang mati suri, mati kehabisan murid, mati tidak ada yang belajar di lembaga tersebut. Kemudian ketika di sebutkan bahwa mendorong pemerintah daerah menerbitkan peraturan tentang madrasah diniyah atau semacamnya, saya agak bertanya, apakah menteri tidak bisa membuat aturan bahwa waktu sore hari sekolah wajib melakukan kegiatan keagamaan (catat : kegiatan keagamaan, bukan hanya untuk agama Islam, tapi juga Kristen, Katholik, Hindu dan Budha). Daripada menunggu pemda menerbitkan perda yang tidak diketahui juntrungnya kapan terbit ataupun apakah pemda berminat menerbitkannya.

Yang kedua, jikalau memang nanti pada sore hari madin atau TPQ berada di sekolah, maka otomatis bangunan bangunan lembaga TPQ dan Madin yang sudah eksis terlebih dahulu akan menjadi ditinggalkan, secara teoritis amal jariyah dari para penderma berkurang, selain itu ruh organisasi yang menaunginya akan tereduksi. Pada sisi yang lain adalah bangunan yang tidak sering dikunjungi entah kenapa lebih rawan cepat rusak daripada bangunan yang sering di huni.

Pertimbangan lain, jikalau memang sudah terjadi pendidikan sore di sekolahan, maka otoritas TPQ dan Madin sekalipun masih eksis di sekolahan yang bekerja sama, akan rawan dari visi dan misi TPQ atau Madin tersebut karena hanya sebagai penumpang di sekolahan. Rawan Intervensi dari sekolahan sehingga pondasi pendidikan madrasah diniyah takmiliyah dan TPQ yang sudah mulai mapan kembali lagi ke titik nadhir dalam satu tahun belakangan.

Bisa jadi ada minoritas TPQ atau Madin yang mengalihkan jam pendidikan pada waktu bada magrib sampai isyak demi menyelamatkan visi dan misi serta identitas dan idealisme yang di tanamkan pada awal pendirian lembaga. Akan tetapi dengan kalkulasi bahwa anak anak masuk sekolah mulai jam 7 pagi dan pulang sampai jam 4 sore, kemudian magrib sekolah TPQ/madin, kira kira tinggal berapa persen tenaga dan pikiran anak untuk alokasi pendidikan non formal ini? Bisa jadi orang tua akan melarang anak untuk sekolah sore mengingat kecapean fisik dan psikis anak. Akan tetapi saya yakin juga pasti ada orang tua yang akan tetap menyemangati anak untuk sekolah arab walaupun dengan kondisi anak yang berpayah payah.

Jadi teringat sebuah lagu yang mungkin terkenal. Dengan judul KILLING ME SOFTLY WITH THIS SONG. Entah ada faktor persaingan organisasi atau tidak, ada unsur politik atau tidak, tapi yang jelas menurut saya pribadi dan kenyataan di beberapa lembaga begitulah yang terjadi. Mungkin lagi Killing me softly with this song bisa di ganti pada akhir kata dengan kalimat yang cocok sehingga sesuai dengan kondisi sekarang. 😀

baca :

Pelajaran Madin Madrasah Diniyah Takmiliyah

Bagi para penggiat madrasah diniyah takmiliyah mestinya sudah banyak mengetahui tentang pelajaran pada madrasah diniyah takmiliyah. Akan tetapi bagi yang baru berminat untuk membuat lembaga Madin dan belum banyak mengetahui tentang lembaga ini mungkin tulisan ini sedikit membantu tentang pelajaran yang hendak di ajarkan di tempat saudara. Selain pelajaran yang diajarkan tentunya juga termasuk hal hal serta jam pelajaran yang di alokasikan guna kegiatan belajar mengajar (KBM) di lingkungan MDT atau juga bisa di sebut MDA ( Madrasah Diniyah Awwaliyah) maupun sejenisnya.

pedoman penyelenggaraan madrasah diniyah takmiliyahSecara syarat aturan, Kegiatan Belajar Mengajar di Madrasah Diniyah Takmiliyah, baik pada jenjang ula, wustha maupun ulya, secara teknis di alokasikan waktu 18 jam satu minggu. dengan MDTA 1 jam pelajaran di  Awwaliyah kelas 1 di hitung 30 menit, sedangkan kelas 2-kelas 4 1 jam pelajaran adalah 40 menit. untuk wustha dan ulya 1 jam pelajaran = 45 menit. Bagaimana jika tidak bisa memenuhi syarat diatas? saran saya sebaiknya anda berubah pikiran membuka Madrasah diniyah takmiliyah dan mengalihkan lembaga anda dengan TQA (ta’limul Qur’an Lil Aulad) yang mana secara waktu dan jumlah pelajaran serta penentuan bidang yang diajarkan lebih fleksibel.

Pelajaran pada Madrasah Diniyah Takmiliyah

setelah mengetahui jam pelajaran pada masing masing alokasi waktu bagi masing masing tingkatan. Selanjutnya dibawah ini adalah macam – macam pelajaran yang di ajarkan pada lembaga pendidikan keagamaan Madrasah Diniyah Takmiliyah. baik untuk Awwaliyah, Wustha Maupun Ulya. Adapun pelajarannya seperti dibawah ini :

  • Pelajaran Qur’an
  • Pelajaran Hadis
  • Pelajaran Aqidah
  • Pelajaran Akhlak
  • Pelajaran Fiqh
  • Pelajaran Tarikh Islam
  • Bahasa Arab
  • Muatan Lokal

pada muatan lokal bisa di isi dengan arab pegon, imla’ dan pelajaran lain yang menjadi khas di wilayah masing masing.

Baca :

Selanjutnya untuk alokasi waktu pelajaran atau jam pelajaran bagi pelajaran di atas pada masing masing tingkat ada perbedaan.  Jika dibuat bagan dalam pelajaran maupun tentang alokasi dari kegiatan pendidikan di Madin akan seperti dibawah ini. Dimana sudah terjadwal secara nama pelajaran dan juga alokasi jam pelajaran bagi masing masing pelajaran dan masing masing tingkatan kelas dan tingkatan Madin.

No Mata Pelajaran MDTA MDTW MDTU
I II III IV I II I II
Keagamaan
1 Al Qur’an 5 5 4 4 3 3 2 2
2 Hadist 1 1 2 2 2 2 2 2
3 Aqidah 1 1 1 1 1 1 2 2
4 Ahlaq 2 2 2 2 2 2 2 2
5 Fiqh 4 4 4 4 4 4 4 4
6 Tarikh Islam 1 1 1 1 2 2 2 2
Bahasa
7 Bahasa Arab 4 4 4 4 4 4 4 4
Muatan Lokal
8 Muatan Lokal
a.     Arab Pegon
b.     Imla
c.     dll
Jumlah 18 18 18 18 18 18 18 18

Demikian perihal mata pelajaran atau biasa disebut mapel pada madrasah diniyah takmiliyah yang disadur dari buku petunjuk pelakasanaan penyelenggaraan madin yang di terbitkan oleh Kemenag Jakarta.

Raport Madin Madrasah Diniyah Takmiliyah

cover raport madin
cover raport madin

Bagi madrasah diniyah takmiliyah atau biasa disingkat MDT dan untuk awwaliyah sering disebut MDTA atau MDA dan wustha dengan MDTW atau MDW serta Ulya atau MDTU MDU, salah satu komponen mengetahui hasil belajar santri atau para siswa dituangkan dalam bentuk format raport madin, dibawah akan diberikan download raport madin atau raport madrasah diniyah takmiliyah yang bisa dijadikan acuan dalam membuat rapot madin. Lanjutkan membaca “Raport Madin Madrasah Diniyah Takmiliyah”

Pengertian Madrasah Diniyah Takmiliyah

belajar menulis
santri belajar menulis huruf arab

Bagi kalangan penggiat pendidikan keagamaan Islam tentunya sudah banyak yang tahu atau minimal pernah mendengar istilah madrasah diniyah takmiliyah. Akan tetapi belum tentu semuanya tau apakah itu madrasah diniyah takmiliyah. Madrasah diniyah takmiliyah biasanya disingkat dengan Madin atau MDT. Sedangkan secara pengertian, menurut buku pedoman penyelenggaraan Madrasah Diniyah Takmiliyah yang diterbitkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) yang dulu bernama Depag ( Kepanjangan dari Departemen Agama ) Pengertian Madrasah diniyah Takmiliyah dibagi menjadi tiga pengertian berdasarkan jenjang yang di selenggarakan. adapun pengertiannya bisa disimak dibawah ini :

Pengertian Madrasah Diniyah Takmiliyah :

Lanjutkan membaca “Pengertian Madrasah Diniyah Takmiliyah”

Jenjang Madrasah Diniyah Takmiliyah

buku-pedoman-madin
buku pedoman madrasah diniyah takmiliyah

Selain lembaga pondok pesantren dan taman pendidikan al Qur’an, salah satu lembaga non formal keagamaan Islam adalah Madrasah Diniyah Takmiliyah yang sering disebut dengan Madin. Seiring dengan perubahan aturan, akhir akhir ini kementerian agama atau Kemenag yang dahulu bernama Departemen Agama ( Depag) lebih memilih menamakan Diniyah takmiliyah. berita yang beredar adalah dengan menyandang nama madrasah dikhawatirkan nanti nya akan menuntut hak kepada Pemerintah seperti Madrasah Ibitidaiyyah atau Tsanawiyah ataupun Madrasah Aliyah. Dengan menghilangkan kata Madrasah maka meminimalisir dari tuntutan persamaan hak.

Kembali lagi ke jenjang Madrasah Diniyah Takmiliyah dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu :

  1. Awwaliyah,
  2. Wustha
  3. Ulya.

penjelasan singkat dan peruntukan tingkatan pada madrasah diniyah takmiliyah adalah sebagai berikut :

  • Madrasah diniyah Awwaliyah (MDTA) diperuntukkan bagi anak-anak berumur sekolah dasar dengan asumsi umur 9-12 tahun.
  • Sedangkan untuk Madrasah Diniyah Takmiliyah Wustha (MDTW) merupakan wadah bagi para siswa setingkat SLTP atau MTs dengan kisaran umur 12-15 tahun. dan
  • untuk madrasah diniyah takmiliyah Ulya atau MDTU bagi mereka yang duduk di tingkat SMA atau MA.  Lanjutkan membaca “Jenjang Madrasah Diniyah Takmiliyah”

Supervisi, Monitoring dan Evaluasi Program Madrasah Diniyah Takmiliyah

buku-pedoman-madin
buku pedoman

Supervisi, monev merupakan bagian dari usaha untuk meningkatkan mutu lembaga pada Madrasah Diniyah (Madin) Takmiliyah. Yang menjadi pusat perhatian supervisi adalah perkembangan santri sehingga supervisi berpusat pada peningkatan profesionalitas guru dengan segala aspek seperti perbaikan metode dan teknik mengajar, perbaikan cara dan prosedur penilaian, serta penciptaan kondisi yang layak bagi perkembangan kemampuan guru, termasuk sarana dan prasaran pendidikan.

Supervisi hendaknya di lakukan secara berkelanjutan dan kesinambungan oleh Kepala Madrasah Diniyah dan pengawas dari Kantor Kementerian Agama setempat. Tujuannya untuk membina dan mengembangkan program pendidikan agar kegiatan pembelajaran berjalan efektif dan efisien.

Kegiatan supervisi dapat dilakukan dalam berbagai bentuk yaitu : Lanjutkan membaca “Supervisi, Monitoring dan Evaluasi Program Madrasah Diniyah Takmiliyah”