Metode Sorogan pada Pondok Pesantren

Salah satu metode yang lazim digunakan oleh pondok pesantren salaf adalah metode sorogan. Bisa dijabarkan sebagai metode yang bersifat individual (individual learning)

Secara bahasa : berasal dari kata sorog berarti menyodorkan (Marwan Saridjo,1989:33)

Sedangkan secara istilah, banyak yang  memberikan definisi. Diantaranya adalah :

Menurut Zamakhsyari Dhofier : “sistem pengajian yang disampaikan kepada murid-murid secara individual”.Selebihnya lihat Zamachsari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai,LP3ES., Jakarta, 1983., halaman 28

Mastuhu mengartikan metode sorogan adalah “Belajar secara individual di mana seorang santri berhadapan dengan seorang guru, terjadi interaksi saling mengenal diantara keduanya”. Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, INIS., Jakarta, 1994, halaman 61

Dalam buku sejarah pendididkan Islam :  “metode yang santrinya cukup men-sorog-kan (mengajukan) sebuah kitab kepada kyai untuk dibacakan di hadapannya. [3] Drs. Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995, halaman 26.

Baca Juga Metode Bandongan pada Pondok Pesantren

Menurut Dr. Manfred Ziemak metode sorogan adalah : “Pelajaran individual atau kelompok kecil dalam setudi dasar”. Dr. Manfred Ziemek, Pesantren dan Perubahan Sosial, P3M., Jakarta,  1986,  halaman 68.

Menurut Karel A. Seenbrink metode sorogan adalah : “pengajaran individual”.  Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah,  Dharma Aksara Putra, Jakarta, 1986, halaman 14.

M.H Chirzin menjelaskan metode sorogan adalah : “Santri menghadap guru seorang demi seorang dengan membawa kitab yang akan dipelajarinya”.[5] [5] M.H Chirzin, Agama, Ilmu, dan pesantren, dalam M. Dawam Raharjo, Pesantren dan Pembaruan, LP3ES., Jakarta, 1985, halaman 88.sorogan

Teknik Pembelajaran Metode Sorogan

Metode ini biasanya dilaksanakan pada suatu ruangan dengan adanya kursi untuk pengajar yang di depannya terdapat meja untuk meletakkan kitab bagi santri yang sedang menghadap. Sementara santri yang lain berada disekitarnya sambil menyimak dan menunggu giliran.

Baca juga Profesi lulusan pesantren

Ditpekapontren Kemenag Republik Indonesia (2003:74-86) menguraikan teknik pembelajaran  sorogan sebagai berikut:

  1. Seorang santri yang mendapat giliran menyorogkan kitabnya menghadap langsung secara tatap muka kepada Pengajar atau kiai pengampu kitab tersebut. Kitab yang menjadi media sorogan diletakan di atas meja/bangku kecil yang ada di antara mereka berdua.
  2. Pengasuh tersebut membacakan teks dalam kitab dengan huruf Arab yang dipelajari baik sambil melihat (bin nadhor) maupun secara hafalan (bilghoib), kemudian memberikan arti/makna kata per kata dengan bahasa yang mudah dipahami.
  3. Santri menyimak dengan seksama apa yang dibacakan ustadz atau kiainya dan mencocokannya dengan kitab yang dibawanya. Selain mendengarkan dan menyimak, santri terkadang juga melakukan catatan-catatan seperlunya guna kemudahan memahami isi kitab;
  4. Bunyi ucapan teks yang berbahasa dan huruf Arab, dengan memberi harakat atau syakal terhadap kata-kata yang ada dalam kitabnya. Pensyakalan ini biasa disebut juga pendlabitan atau ngabsahi atau ngesahi. Harakat yang ditulis selain sesuai dengan bacaan kosa kata (mufrodāt) juga disesuaikan dengan nahwu atau fungsi dan kedudukan kata atau kalimat (i’rab).
  5. Santri juga menuliskan arti setiap kosa kata (mufradāt) dengan bahasa ibu santri (biasanya bahasa Jawa), langsung di bawah kata tersebut dengan menggunakan huruf Arab pegon, dilengkapi dengan simbol-simbol fungsi dan kedudukan kata atau kalimat tersebut. Misalnya kata yang berkedudukan sebagai mubtada’ (subyek) diberi simbol huruf mim yang juga mempunyai arti/bacaan khusus “utawi/adapun”sebagai tanda bacaan subyek, kata yang berkedudukan khabar (predikat) diberi simbol huruf kha’ di depannya dan diberi  istilah “iku/itu’ sebagai tanda predikat, dan lain sebagainya.
  6. Setelah selesai pembacaannya oleh ustadz atau kiai, santri kemudian menirukan kembali apa yang telah disampaikan di depan, bisa juga pengulangan ini dilaksanakan pada pertemuan selanjutnya sebelum memulai pelajaran baru. Dalam peristiwa ini, ustadz atau guru melakukan monitoring dan koreksi seperlunya kesalahan atau kekurangan atas bacaan (sorogan) santri.

source

Dalam suatu metode tentunya ada kelebihan dan kekurangannya. Adapun kekurangan dan kelebihan dari metode ini adalah :

Kelebihan

  1. Ada interaksi yang intensif secara individual antara kiai dan santri
  2. Murid lebih dapat dibimbing dan diarahkan dalam pembelajarannya secara komprehensif
  3. Terkontrol perkembangan dan kemampuan diri santri.
  4. Komunikasi yang efektif antara santri dan pengajarnya.
  5. Keterikatan secara emosional antara murid dengan guru yang lebih baik (karena berinteraksi secara langsung dan intensif).
  6. Pemahaman yang sangat baik bagi santri perorangan karena disimak secara individual

Kekurangan

  1. Tidak cocok untuk mengajar banyak santri (memakan banyak waktu untuk menyimak secara individu)
  2. Menciutkan nyali santri baru yang kurang paham terhadap pelajaran karena berhadapan langsung dengan pengajar (pada kasuistik tidak berlaku).

Metode ini adalah salah satu metode yang sulit diterapkan karena dibutuhkan banyak SDM untuk menyimak. selain itu adalah hal yang lazim suatu pondok pesantren memiliki jumlah santri ribuan.

Iklan

Penulis: Gadung Giri

salam kenal

3 thoughts on “Metode Sorogan pada Pondok Pesantren”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s